Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Suara Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Suara Hati. Tampilkan semua postingan

Rabu, 23 Juli 2014

Engkau Tetap Rahwana!

Pemuda terlepas terhempas oleh pilu
Karma menampar bengis pemilik hati terkutuk
Menyudutkan dunianya ke sebuah genangan air disudut sempit pijak batu cadas
Terkapar lemaslah sang pemuda, dengan wajah tenggelam dalam genangan air
"ah rasanya aku kenal air ini! Bukankah ini air mata hati yang dibunuh sosok durjana itu?"
Pemuda mengangkat muka, matanya membidik genangan penuh tanya
sesosok wajah yang tak asing muncul dari riak, seisi bumi pertiwi mengutuk dalam bisu
Wajah itu milik dia yang terkutuk cintanya
Wajah itu milik seorang penuh naif tentang rasa
Wajah itu milik sebuah bagian tragis dari cerita para dewi
Wajah itu milik Rahwana!
Pemuda kembali roboh, asa perkasa telah musnah bersama riak air nelangsa
Pemuda mencoba bangkit, menengadah pada langit senja yang tetap bisu
"tak mungkin aku tetap Rahwana bukan?"
Seketika itu petir menembus hati kosong sang pemuda, langit tak lagi diam.
Sejuta sumpah serapah langit membinasakan pemilik hati terkutuk
"ENGKAU TETAP RAHWANA!"
AAP - 22-7-14

Jumat, 18 Juli 2014

Untuk Teman Lama

Hai teman lamaku,
kau tahu, dulu aku sering mengejek kesendirianmu. Tentang kamu yang selalu berjalan sendiri, tentang kamu yang seakan tak peduli akan ramainya dunia. Tentang kamu yang dengan datar membalas sapa.
Kau tahu, aku kini juga begitu.
Aku mulai mengerti kenapa dan mengapa.
Setelah semua penghianatan dan kekecewaan ini, menjadimu bukan sesuatu yang buruk.
Dunia ini sudah terlalu tua, begitu membosankan dengan sandiwara tua yang selalu sama, dengan sampah bertebaran di sudut jalan.
Harusnya engkau ada disini, biar kuceritakan betapa jenuhnya, betapa bosannya, betapa muaknya aku pada dunia ini.
Ah, aku mulai menikmati menjadimu.
Berjalan sendiri tak peduli pada mereka yang tersenyum padaku dengan pisau tersembunyi di balik punggung.
Biarkan mereka menyapa, aku akan menyapa dengan datar.
Takkan lagi ada pengorbanan untuk mereka.
Itu lebih baik daripada membunuh mereka bukan?
Aku ingin engkau menertawai ejekanku dulu.
Aku ingin kau puas, wahai sahabatku, kehampaan yang abadi
AAP 9-7-14

Selepas Adzan Subuh

Selepas adzan subuh, seorang pemuda berjalan disebuah lorong gelap
Di sudut mata, sebuah bayang hitam diam tak bergerak
"siapa kamu?"
Dia diam, mungkin lelah menahannya untuk tetap diam
"siapa kamu, yang menjawabku dengan tatapan kosong sedang aku tak kau izinkan masuk dari pertemuan mata kita?"
Dia tetap diam, mungkin nelangsa mematrinya dalam diam
Pemuda melihat lebih dalam pada tatap kosong bayang hitam, dan kemudian terhempas jiwa dari raganya-MATI
"ah, aku tahu. Kau adalah jiwaku setelah senja mati. kini kau tak lagi sepi, jiwaku telah datang padamu, bersama sepi yang sama"
Dia selamanya diam, dengan senyum kosong diwajahnya
"kau tak lagi sendiri, meski tetap sepi"

AAP 9-7-14